News Photo

”Regional Workshop on Monitoring of Marine and Riverine Plastic Pollution in the ASEAN Region”

  • Selasa, 24 Agustus 2021
Jakarta, 24 Agustus 2021. Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) dan Norwegian Institute for Water Research bekerjasama dengan Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, dan ASEANO (ASEAN-Norwegian Cooperation Project on Local Capacity Building for Reducing Plastic Pollution in the ASEAN Region) menyelenggarakan kegiatan Regional Workshop on Monitoring of Marine and Riverine Plastic Pollution in the ASEAN Region yang diselenggarakan pada 23 – 24 Agustus 2021 secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.
 
Workshop yang diselenggarakan selama 2 dua hari ini diikuti oleh sekitar 50 orang yang berasal dari perwakilan 10 negara anggota ASEAN yang terdiri dari pemerintah dan akademisi. Lokakarya regional ASEAN ini diselenggarakan berfokus pada pemantauan pencemaran sampah plastik laut dan sungai di kawasan ASEAN. Insiasi penyelenggaraan workshop merupakan bagian dari Norwegian - ASEAN Regional Integration Program (NARIP) yang bertujuan untuk mendorong kolaborasi di kawasan ASEAN untuk mengurangi polusi plastik, menyebarluaskan dan berbagi pengetahuan antar negara, serta berkontribusi untuk memenuhi target pengurangan suara baik dalam skala nasional maupun regional.
 
Sebagaimana diketahui bahwa Asia Tenggara dianggap sebagai penyumbang utama pencemaran sampah plastik ke lautan di dunia. Lebih dari setengahnya berasal dari empat negara seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Isu lintas batas ini telah menimbulkan ancaman lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, termasuk kerusakan habitat dan ekosistem pesisir dan laut yang menimbulkan kerugian sosial ekonomi di sektor berbasis kelautan. Pencemaran plastik juga mempengaruhi pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan, serta minimnya pengelolaan sampah dan infrastruktur di daerah.
 
Mengacu pada ASEAN Framework of Action on Marine Debris (Kerangka Aksi ASEAN untuk Penanganan Sampah Laut), negara-negara anggota ASEAN menyadari kebutuhan mendesak untuk mengambil tindakan dan telah membuat kemajuan penting dalam memerangi sampah laut. Salah satu kegiatan yang disarankan adalah mengkaji dan menganalisis informasi dan data tentang status dan dampak sampah laut di kawasan ASEAN dan menyusun laporan baseline regional. Oleh karena itu, pemantauan sampah plastik laut dan sungai adalah bagian penting dalam menilai tingkat dan kemungkinan dampak, merancang metode mitigasi dan mengevaluasi efektivitas tindakan.
 
Fakta menunjukan bahwa pencemaran plastik di laut merupakan tantangan regional dan global, solusinya memerlukan tindakan lokal. Sehingga diperlukan harmonisasi metode, khususnya untuk lebih memahami alat dan metode pemantauan yang digunakan dalam mengatasi risiko dan tantangan limbah plastik. Dengan demikian, kegiatan ini juga akan memperkuat kapasitas regional, nasional, dan lokal untuk meningkatkan rencana aksi nasional. Selama lokakarya berlangsung, para peserta berbagi pemahaman tentang metode, alat, pengalaman, solusi dan praktik yang baik mengenai pemantauan pengendalian pencemaran sampah plastik.
 
Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), Kung Phoak, memberikan sambutan pembuka yang dilanjutkan dengan sambutan tuan rumah lokakarya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dalam hal ini diwakili oleh SPM Budisusanti, Direktur Pengendalian Kerusakan Ekosistem Gambut. Dalam sambutan tertulis Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK yang dibacakan oleh SPM Budisusanti menyatakan, “Lokakarya ini akan meningkatkan sinergi antara mekanisme yang ada dan upaya global dan regional, mempromosikan kerja sama lintas batas, serta bertujuan untuk kolaborasi lebih lanjut dalam menyelaraskan dan memperkuat pemantauan sampah laut”.
 
Asia Tenggara sering dijuluki sebagai penyumbang lebih dari setengah sumber pencemaran plastik laut berbasis daratan secara global. Pertumbuhan aktifitas di perkotaan yang berkembang pesat dikombinasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang belum baik diyakini berkontribusi hingga 60 persen pencemaran sampah plastik ke lingkungan. Mayoritas sumber pencemaran plastik laut berbasis darat berasal dari sampah yang tidak terkumpul. Sedangkan sisanya berasal dari kurangnya sistem pengelolaan sampah kota.
 
“Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk memuji semua negara anggota ASEAN dan mitra, di bawah kepemimpinan Thailand sebagai ketua Kelompok Kerja ASEAN untuk Lingkungan Pesisir dan Laut (AWGCME) atas peluncuran Rencana Aksi Regional ASEAN baru-baru ini untuk memerangi sampah laut di negara-negara anggota ASEAN untuk tahun 2021 hingga 2025”, ungkap SPM Budisusanti. Pada kerangka aksi ini ditetapkan panduan untuk tindakan dan metodologi penilaian dan pemantauan sampah laut. Kolaborasi antar negara ini dianggap penting untuk mengumpulkan, meninjau, dan menganalisis informasi dan data tentang status, serta dampak sampah laut di kawasan ASEAN.
 
Diketahui bahwa Program Regional Seas Conventions and Action Plans (RSCAPs), khususnya COBSEA berperan dalam mengembangkan Pedoman Regional tentang Program Pemantauan Sampah Laut yang diharmonisasikan untuk menanggapi upaya dan kapasitas pemantauan yang ada di wilayah tersebut. Pedoman ini memberikan rekomendasi metode pemantauan, standar data, dan tujuan untuk memperkuat pemantauan nasional dan regional.
 
Pemerintah Indonesia telah membangun Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S) dalam kaitannya dengan Kemitraan Global untuk Sampah Laut atau Global Partnership on Marine Litter (GPML). RC3S dibentuk berdasarkan resolusi UN Environment Assembly (UNEA) ke-4 melalui Keputusan Menteri LHK yang memandatkan untuk mengurangi dan memitigasi sumber pencemaran laut berbasis darat melalui manajemen pengetahuan, peningkatan kapasitas dan peningkatan kesadaran, serta mengembangkan model solusi untuk sampah laut sejalan dengan misi GPML. Dengan dukungan dan kolaborasi yang berkelanjutan, RC3S akan berupaya mendukung dan mempromosikan upaya untuk mengatasi sampah laut di tingkat regional, memperkuat manajemen pengetahuan dan meningkatkan kerja sama.
 
 
OooooO
 
Untuk informasi mengenai notulensi lokakarya dapat mengunduh pada tautan berikut ini:
https://bit.ly/Note-ASEANO


]

Original text