News Photo

ROAD TO PRESIDENCY G20 INDONESIA IN 2022

  • Kamis, 30 Sepember 2021

Direktoral Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar pembinaan pegawai secara daring untuk mempersiapkan “Road to Presidency G20 Indonesia in 2022” yang dilaksanakan pada hari Kamis, 30 September 2021. Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh pejabat eselon II, eselon III, eselon IV, dan fungsional lingkup Ditjen PPKL. Pelaksana tugas Dirjen PPKL, Ir. Sigit Reliantoro,  dalam sambutan dan pengarahan menyampaikan bahwa tujuan dari dilaksanakannya pembinaan hari ini, yaitu untuk unit kerja PPKL memahami momentum ini sekaligus segera mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan saat Indonesia menjadi presiden G20 di tahun 2022.

 

Pembinaan juga dihadiri oleh Direktur Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Ir. Laksmi Dhewanthi, M.A, yang saat ini bertindak sebagai national focal point (NFP) dari kelompok kerja Environmental Deputies Meeting dan Climate Sustainable Working Group (EDMCSWG) bersama dengan Plt. Dirjen PPKL dan Ir. Dida Migfra Ridha, M.Si selaku Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri KLHK. Pada kesempatan tersebut kedua narasumber menyampaikan bahwa KLHK sebagai penanggung jawab EDMCSWG harus bisa memainkan peran strategis dalam mengawal isu ini sehingga momentum presidency G20 menjadi ajang bertukar pengalaman (best practice) dan Indonesia bisa menunjukkan secara baik capaian pengelolaan lingkungannya (leading by example). EDMCSWG pada kepemimpinan Indonesia akan digabungkan, berbeda dengan presidensi Arab Saudi dan Italia yang dipisah.  

 

EDMCSWG sendiri tergabung dalam Sherpa Track yang dikoordinasikan oleh Kementerian Kooodinator Perekonomi, hal  ini dikarenakan isu yang dibahas berkaitan dengan isu-isu pembangunan. Secara garis besar forum G20 memiliki 2 track besar, yaitu Finance Track dan Sherpa Track.  Sherpa track secara struktur akan mengkoordinasikan dua belas pertemuan tingkat menteri (ministerial meeting) dan sebelas kelompok kerja.

 

Presidency Indonesia pada forum G20 akan mengusung tema Recover Together, Recover Stronger” yang berfokus kepada tiga pilar penting yaitu, mempromosikan produktivitas, meningkatkan ketahanan dan kestabilan, menjamin adanya keberlanjutan dan pembangunan yang berkelanjutan dan melibatkan berbagai macam pihak. Tema ini dipilih karena dianggap mewakili kebutuhan dari seluruh negara di dunia dalam menghadapi dan mengelola pandemik COVID-19.

 

Indonesia akan menjadi presidensi pada forum G20 terhitung sejak tanggal 1 Desember 2021 sampai dengan 30 November 2022. KLHK sedang mempersiapkan menyelenggarakan beberapa agenda penting. Agenda tersebut antara lain pembahasan kelompok kerja EDMCSWG itu sendiri dan beberapa pertemuan seperti Workshop Nature Based Solution and Ecosystem Based ApproachResource Efficiency Dialog, dan Founding of Nature melalui kolaborasi dengan Sustainable Financing Working yang telah dimandatkan dalam presidensi Italia. Rencana pelaksanaan agenda pertama kelompok kerja EDMCSWG akan dilaksanakan pada bulan Maret 2022.

 

Untuk mempersiapkan proses peralihan presidensi G20 Indonesia, KLHK juga harus mempersiapkan secara matang keseluruhan materi dan dokumen yang dibutuhkan dalam penyelenggaraannya. Dirjen PPI menyatakan bahwa perlu adanya pelibatan multi stakeholder meliputi pakar, akademisi, organisasi dan mitra internasional lainnya agar bisa menjadi lebih matang dan komprehensif. Selain itu, KLHK juga perlu meninjau final  Draft Communique, yaitu hasil yang akan dibahas dan disepakati oleh Menteri. Indonesia memiliki tujuan sebagai presiden G20 tahun 2022 bukan hanya akan sebagai penyelenggaraan namun juga harus menjadi pemimpin negosiasi agar tercapainya tujuan.

 

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Sigit Reliantoro berharap agar PPKL dan PPI dapat segera bersinergi untuk mulai mempersiapkan Presidensi Indonesia di G20 pada 2022 mendatang secara baik dan matang.

 

Teks : Romi Setiawan, Tim Magang: Fariska Cinta Priandini dan Safira Maharani Hanifa Syach.



]

Original text