News Photo

INDONESIA AMBIL BAGIAN DALAM THE SEVENTH EAST ASIAN SEAS (EAS) MINISTERIAL FORUM

  • Kamis, 2 Desember 2021

Jakarta, 2 Desember 2021. Para menteri dan pejabat senior pemerintah dari 11 negara di kawasan Laut Asia Timur berkumpul pada Forum Menteri EAS ke-7 dari Kongres Laut Asia Timur (EAS) 2021, untuk pertama kalinya pertemuan ini dilaksanakan secara virtual. Tujuan dilaksanakannya pertemuan ini adalah untuk mengikrarkan komitmen dalam memajukan United Nations Sustainable Development Goals (SDGs) melalui Partnership in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) hingga tahun 2030. Pertemuan dibuka oleh Say Samal selaku Menteri Lingkungan Hidup Kamboja yang merupakan Chair dari pertemuan tersebut. 


Menteri Samal menyampaikan bahwa “Forum Menteri hari ini menjadi lebih penting karena kami menetapkan Roadmap kami untuk membantu kawasan ini menuju kearah yang lebih baik. Mari kita membangun pelajaran dan keuntungan yang telah kita peroleh dari PEMSEA selama 28 tahun terakhir dan melanjutkan pekerjaan laut kita sebagai salah satu aset terbaik dalam menjaga kesehatan manusia dan planet.” 


Pertemuan EAS ke-7 mengusung tema “Advancing our Sustainable Development Agenda: Road to 2030 for Healthy Ocean, People, and Economies,” dan diselenggarakan oleh Pemerintah Kerajaan Kamboja melalui Kementerian Lingkungan Hidup dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi Sihanoukville, Kamboja dan bekerja sama dengan PEMSEA.


Forum Menteri EAS ke-7 adalah acara tingkat tinggi dari Kongres Laut Asia Timur tiga tahunan yang berfungsi sebagai kesempatan bagi para menteri pemerintah terkait untuk bertemu dan terlibat dalam dialog kebijakan. Forum ini memberikan arahan yang berkaitan dengan kerjasama regional dan pemenuhan komitmen internasional mereka untuk pembangunan berkelanjutan melalui kerja Sustainable Development Strategy for the Seas of East Asia (SDS-SEA). 


Pada puncak acara, negara-negara anggota PEMSEA menandatangani Preah Sihanouk Ministerial Declaration yang mengesahkan Roadmap PEMSEA hingga 2030 sebagai panduan strategis kawasan yang mengacu pada visi dan komitmen SDS-SEA terhadap Blue Economy, seiring dengan rencana dan program green recovery negara PEMSEA serta dengan komitmen lingkungan internasional yang utama. Ministerial Declaration ditandatangani oleh Pejabat Senior Pemerintah Kamboja, China, Korea Utara, Indonesia, Jepang, Laos, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Timor Leste, dan Vietnam. 


Selain agenda penandatanganan Ministerial Declaration, agenda penting lainnya yang menjadi perhatian yakni upaya untuk kemajuan yang dibuat oleh kawasan EAS melalui kemitraan PEMSEA dalam penerapan kerangka kerja sama SDS-SEA serta mengenali dampak dan membangun kembali peluang yang lebih kuat dan lebih hijau dari pandemi global serta kekhawatiran lain yang terus hadir di kawasan ini.


Ministerial Forum ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan komitmen-komitmennya dalam menuju pesisir dan lautan yang berkelanjutan dan tangguh. Indonesia juga menyampaikan bahwa dari 34 provinsi di Indonesia, 28 provinsi sudah mendeklarasikan Wilayah Pesisir dan Rencana Zonasi Pulau Kecil yang meliputi sekitar 83% atau 90.000km garis pantai Indonesia di bawah Integrated Coastal Management (ICM).


Menteri Samal juga meminta rekan-rekan menteri lainnya dan masyarakat untuk memanfaatkan peluang yang dapat dimanfaatkan dari pandemi global ini. Khusus bagi Kamboja, mereka berkomitmen untuk membangun basis Blue Economy yang berkelanjutan, adil, dan tangguh. “Kita semua memiliki peran untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan visi SDS-SEA.” Ujarnya.


Sebagai penutup, Arief Yuwono selaku EAS Partnership Council Chair menyampaikan bahwa Forum dan Deklarasi Menteri ke-7 bukan hanya menandai tonggak lain dalam sejarah PEMSEA, tetapi juga menjadi sebuah tantangan untuk terus mendefinisikan kembali tata kelola pantai dan laut yang lebih baik. “Deklarasi Menteri ke-7 yang ditandatangani para menteri hari ini menunjukkan perlunya pendekatan strategis jika kita ingin sukses mengatasi tantangan pandemi, perubahan iklim, dan degradasi lainnya. Untuk melanjutkan agenda pembangunan berkelanjutan, kami tetap fokus pada visi laut, masyarakat dan ekonomi yang sehat” ungkap Arief Yuwono.


Teks: Fariska Cinta Priandini, Safira Maharani Hanifa Syach, Tedi Bagus PM, Romi Setiawan. Dokumentasi: M Reza Nur H, Fadilah Amelia H.



]

Original text