News Photo

PENGARUSUTAMAAN ISU LINGKUNGAN DAN IKLIM DALAM PRESIDENSI G20 INDONESIA

  • Selasa, 1 Maret 2022
Jakarta, 1 Maret 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaksanakan Kick Off Meeting dan Media Briefing Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG) pada Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022. Penunjukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai pengampu isu lingkungan dan perubahan iklim didasarkan pada Keputusan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor 120 Tahun 2022 tentang Kelompok Kerja Sherpa Track Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022. Penyelenggaraan EDM-CSWG oleh akan dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim.
 
Kita tunjukan bahwa Indonesia memiliki arti bagi dunia, terutama dalam konteks Environment and Climate Sustainability, karena kita bangsa pekerja, pemikir, antisipatif, inovatif, responsif”, ujar Menteri LHK, Siti Nurbaya dalam sambutannya dalam acara Kick Off G20 on EDM-CSWG.
 
Menteri Siti pun menyebutkan jika semua keberhasilan kerja sektor lingkungan, kehutanan dan pengendalian perubahan iklim di Indonesia bukan hanya hasil kerja Kementeriannya saja, melainkan merupakan hasil kerja keras semua pihak, unsur- unsur struktur negara dan elemen bangsa seperti, eksekutif, legislatif, yudikatif, masyarakat, akademisi, aktivis, jurnalis, dunia usaha, komunitas, masyarakat adat, juga dukungan kerjasama yang baik negara sahabat dan multilateral.
 
Indonesia memandang sangat penting juga untuk memastikan bahwa komitmen-komitmen tersebut dipenuhi melalui kebijakan dan aksi-aksi nyata. Leading by examples oleh seluruh negara G20 dan akan akan menjadi contoh bagi negara-negara lain”, tegas Menteri Siti.
 
G20 adalah kelompok informal dari 19 negara dan Uni Eropa. G20 merupakan forum ekonomi utama dunia yang memiliki posisi strategis karena secara kolektif mewakili sekitar 65% penduduk dunia, 79% perdagangan global, dan setidaknya 85% perekonomian dunia. G20 adalah forum kerja sama multilateral yang dibentuk pada 1999 atas inisiasi negara-negara anggota G7. Penambahan 12 negara dan Uni Eropa didasarkan pada pentingnya bagi negara-negara berpendapatan menengah serta yang memiliki pengaruh ekonomi secara sistemik untuk diikutsertakan dalam perundingan demi mencari solusi permasalahan ekonomi global. Forum G20 memiliki dua jenis alur pembahasan finance track dan sherpa track, isu lingkungan dan perubahan iklim akan dibahas di bawah jalur sherpa track.
 
Berdasarkan deklarasi para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan G20 yang diadopsi di bawah Presidensi Arab Saudi pada 2020 (Riyadh Summit Leaders’ Declaration), Indonesia akan memegang Presidensi G20 pada tahun 2022. Kepemimpinan Indonesia pada forum G20 terhitung sejak 1 Desember 2021 sampai dengan 30 November 2022. Peralihan presidensi G20 Indonesia ditandai pada saat Konferensi Tingkat Tinggi G20 Tahun 2021 di Roma, Italia yang merupakan presidensi G20 tahun sebelumnya. Indonesia akan menjalankan presidensi bersama dengan Italia yang merupakan presidensi tahun 2021 dan India yang akan menjadi presidensi pada tahun 2023.
 
EDM-CSWG pada presidensi G20 Indonesia, akan mengusung tiga isu prioritas yang akan menjadi fokus pembahasan dari setiap pertemuan yaitu:
  1. mendukung pemulihan yang berkelanjutan (supporting a more sustainable recovery);
  2. peningkatan aksi berbasis daratan dan lautan untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing land- and sea-based actions to support environment protection and climate objectives); dan
  3. peningkatan mobilisasi sumber daya untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing resource mobilization to support environment protection and climate objectives).
 
Dalam pertemuan EDM-CSWG, pemerintah Indonesia juga akan membawa misi penguatan kerja sama global untuk bisa menghasilkan kesepatan dan aksi nyata terhadap topik-topik:
  1. implementasi post-2020 kerangka keanekaragaman hayati global;
  2. restorasi ekosistem yang berfokus untuk mengurangi degradasi lahan dan meningkatkan konservasi, pengelolaan berkelanjutan dan pemulihan habitat terrestrial khusus lahan gambut, mangrove dan/atau ekosistem unik lainnya;
  3. mendukung komitmen global terhadap pengelolaan sumber daya air termasuk pengelolaan danau berkelanjutan, pengelolaan Daerah Aliran sungai, dan efisiensi sumber daya air untuk mencapai ketahanan air dan mendukung target SDG’s Nomor 6;
  4. menciptakan pembiayaan yang berkelanjutan dan inovatif untuk mendukung pemulihan ekosistem dan ekosistem laut; dan
  5. penguatan rencana aksi sampah laut dan tindakan lebih lanjut perlindungan terpadu ekosistem pantai dan laut dari pencemaran berbasis darat dan laut dengan fokus khusus pada keterlibatan masyarakat.
 
Selain itu, untuk mendukung isu prioritas pada Climate Sustainability Working Group (CSWG) telah dilakukan rangkaian study sebagai basis pembahasan bagi penyusunan Communiqué/Deklarasi tingkat Menteri, dengan keluaran antara lain sebagai berikut:
  1. Memberikan analisis yang komprehensif dalam implementasi target National Determined Contribution (NDC) menuju pemulihan berkelanjutan (sustainable recovery);
  2. Memberikan analisis yang komprehensif terkait dengan peran mitigasi co-benefit untuk mendorong pemulihan dan ketahanan iklim yang lebih berkelanjutan;
  3. Membantu komitmen global untuk melakukan pengelolaan sektor kelautan secara berkelanjutan termasuk pelestarian terhadap ekosistem pesisir;
  4. Mendorong kerjasama antara Negara G20 dalam hal penelitian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk aksi iklim berbasis laut menuju ketahanan iklim;
  5. Mendorong kerjasama antara Negara G20 dalam peningkatan mobilisasi sumberdaya untuk mendukung pengendalian perubahan iklim;
  6. Menyediakan informasi kepada Negara G20 terkait dengan potensi carbon pricing dalam mendukung implementasi NDC dan transisi menuju rendah emisi dan ketahanan iklim.
 
Tiga isu prioritas dan misi-misi utama EDM-CSWG akan dibahas dan dirumuskan menjadi komitmen kolektif G20 melalui adopsi suatu Komunike Menteri-Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 sebagai dokumen utama hasil peetemuan. Komunike ini direncanakan akan diadopsi pada Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 yang akan diselenggarakan pada 31 Agustus 2022 di Bali, Indonesia. Adapun pembahasan substansi dan elemen dari Komunike akan diselenggarakan dalam tiga pertemuan tingkat Deputi/Direktur Jenderal Anggota G20 yang akan dilaksanakan secara berurutan di Yogyakarta pada 21 – 24 Maret 2022; di Jakarta pada 19 – 21 Juni 2022; dan di Bali pada 29 – 30 Agustus 2022.
 
Rangkaian pertemuan EDM-CSWG tidak hanya akan dihadiri oleh anggota G20. Pemerintah Indonesia juga turut mengundang Spanyol sebagai negara udangan permanen, Belanda, Singapura, Fiji, Belize, Senegal, Rwanda, dan Uni Emirat Arab. Fiji diundang sebagai representasi negara berkembang dan negara kepulauan, sedangkan Belize, Senegal, Rwanda, sebagai representasi kemajukan negara-negara di benua afrika. Selain negara, sejumlah organisasi internasional juga akan terlibat dalam pertemuan EDM-CSWG antara lain UNEP, FAO, IFAD, UNDP, dan ASEAN.
 
EDM-CSWG juga terbuka dan siap untuk bersinergi dengan working group dan engagement group lainnya. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pencapaian aksi kolektif konkret yang akan dibawa oleh Presidensi G20 Indonesia yaitu: (1) arsitektur kesehatan dunia; (2) transformasi digital; dan (3) transisi energi serta visi bersama pertemuan Presidensi G20 Tahun 2022 “Recover Together dan Recover Stronger”. Kami yakin bahwa upaya pemulihan dunia pasca Covid-19 harus sejalan dengan upaya pemulihan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim.
 
 
 
Penulis: Romi Setiawan
Editor: Hanum Sakina


]

Original text