News Photo

Workshop Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut: Perspektif Akademisi dan Praktisi

  • Kamis, 25 Juli 2019
Surabaya, 25 Juli 2019. Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut menggelar workshop yang menghadirkan perwakilan dari berbagai Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian sebagai akademisi, dan perwakilan Pemerintah Daerah yang berperan sebagai praktisi. Workshop ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan penelitian yang telah dilakukan, memperbarui penerapan Pengelolaan Pesisir Terpadu atau Integrated Coastal Management (ICM) dan mengidentifikasi penelitian yang dibutuhkan, dan juga merumuskan tindakan yang dibutuhkan. Para peserta workshop juga diarahkan untuk dapat bersinergi dengan program dan aktifitas dari Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S).
 
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), M.R. Karliansyah, dalam sambutan pembukaannya mengingatkan para peserta bahwa isu pesisir dan laut, khususnya marine litter, telah menjadi perhatian dunia internasional, maka sangat penting untuk dapat menyelaraskan kolaborasi antar semua pihak. “Pemerintah tidak bisa hanya bergerak sendiri, kita butuh campur tangan semua pihak, termasuk akademi dan praktisi. Pihak swasta pun sudah memberikan banyak kontribusinya melalui rutinitas penyelenggaraan Coastal Clean-up, yang juga kita prakarsai,” ucap Karliansyah. Ia juga meminta para peserta untuk dapat memanfaatkan RC3S, untuk menyampaikan hasil penelitian, melakukan pengkajian, dan memberikan segala bentuk dokumentasi yang berharga yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan pesisir dan laut.
 
Output utamanya adalah healthy ocean. Setelah sehat, diharapkan laut Indonesia dapat menjadi laut yang produktif, sehingga juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, atau bahkan menjadi devisa negara. Jadi, jangka panjangnya juga untuk aspek wisata dan ekonomi,” ujar Ario Damar, perwakilan dari Institut Pertanian Bogor, yang menjadi fasilitator pada workshop ini. Ia memandu forum untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan baik oleh instansi mau pun lembaga penelitian, serta merumuskan tindak lanjut yang diperlukan. Pemerintah Daerah juga diberi kesempatan untuk menyampaikan praktik-praktik pelaksanaan ICM di wilayah mereka masing-masing.
 
Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dapat menjadi kekuatan besar untuk mendukung kebutuhan akan scientific base bagi kegiatan-kegiatan pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut yang sejalan dengan perencanaan pembangunan lingkungan hidup khususnya dalam lingkup pesisir dan laut. Dalam hal ini, diperlukan peningkatan kualitas infrastruktur penelitian seperti laboratorium agar dapat digunakan sebagai acuan. Para peserta pun merasa perlunya ruang untuk koordinasi dan bertukar informasi, untuk mengkomunikasikan berbagai capaian dan kebutuhan.
 
Tindak lanjut yang akan diambil dari hasil workshop tersebut adalah: 1) Hasil identifikasi berbagai penelitian yang diperlukan agar menjadi prioritas dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut dan dalam dalam mendukung penerapan pelaksanaan ICM di berbagai daerah, 2) Pembelajaran dari suatu daerah/lokasi agar menjadi perhatian daerah/lokasi lainnya, dan best practices management yang didapatkan dapat diadopsi oleh daerah lainnya baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat regional, dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai dan kondisi lokal, dan 3) Keberadaan RC3S yang berkedudukan di Denpasar harus dapat menjadi bagian dalam upaya penyelesaian berbagai permasalahan pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut. Sesuai dengan harapan Karliansyah dalam sambutannya, semoga kesimpulan dari workshop tersebut dapat segera diimplementasikan di lapangan demi lingkungan pesisir dan laut Indonesia yang lebih baik.



]

Original text