News Photo

DITJEN PPKL Menggelar Workshop Tentang Pencemaran Laut Berbasis Daratan pada AIS STARTUP & BUSINESS SUMMIT 2019

  • Rabu, 30 Oktober 2019
Manado, 30 Oktober 2019. Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, melalui Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut (PPKPL), ambil bagian dalam acara AIS Startup & Business Sumit 2019, yang diselenggarakan oleh Archipelagic & Island States (AIS) Forum dan bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia. Acara yang berlangsung sejak tanggal 30 Oktober – 1 November 2019 ini diikuti oleh berbagai pihak, yaitu 25 delegasi negara anggota AIS Forum, beberapa Kementerian dan Lembaga Indonesia, Pemerintah Daerah, sektor swasta, akademisi dan ahli, mahasiswa dan pelajar, serta masyarakat umum.

Direktorat PPKPL menggelar workshop pada hari pertama AIS Forum yang berjudul “Strengthening Capacity Initiatives for the Protection of Marine Environment from Land-Based Pollution”, dan menghadirkan beberapa pembicara yaitu Dida Migfar Ridha (Direktur PPKPL), Markus T. Lasut (Direktur Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi) M. Ahsin Sidqi (Direktur PT. Indonesia Power), dan Lieke Kembuan (Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado). Para pembicara saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam persoalan kebijakan pemerintah, penelitian akademis, sumber daya dan kontribusi sektor swasta, dan kolaborasi yang dapat dilakukan demi meningkatkan kapasitas dalam perlindungan wilayah laut.

Di hadapan para peserta workshop yang merupakan mahasiswa, pelajar, serta umum, Dida Migfar Ridha menjelaskan mengenai Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S) yang merupakan inisiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Meski di satu sisi Indonesia dianggap sebagai salah satu polutan laut terbesar, di sisi lain kita juga akan terus menginovasi solusi-solusi melalui RC3S,” ujarnya. Beliau juga menyampaikan berbagai agenda yang telah maupun yang akan dilakukan oleh RC3S, seperti melakukan pelatihan dalam monitoring dan assessment sampah plastik dan mikroplastik yang diikuti oleh beberapa negara, menggali berbagai penelitian dalam pencemaran laut berbasis daratan, lalu membangun kesadaran melalui aksi bersih pantai yang rutin dilakukan di berbagai belahan wilayah pesisir Indonesia, dan akan terus meningkatan kapasitas dari berbagai sektor baik sektor akademis, pemerintah daerah, maupun swasta.
Dari sektor akademis, Markus T. Lasut menyampaikan betapa pentingnya mengatasi permasalahan pesisir dan laut Sulawesi Utara, karena merupakan jantung dari Coral Triangle, yaitu jaringan luas dari terumbu karang yang menyambungkan perairan di sekeliling Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Pulau Solomon, dan Timor Leste, dan sering disebut sebagai Amazon of the seas. Menurutnya, saat ini Indonesia masih terbatas dalam segi teknologi, untuk mengatasi masalah tersebut, namun ia menegaskan untuk dapat terus mengembangkan ide tanpa batas, inovasi yang mungkin hanya bersifat lokal, namun dapat dikembangkan secara global. Beliau juga memberi rekomendasi untuk membangun pusat riset dengan laboratorium yang terintegrasi.

Ahsin sebagai perwakilan dari sektor swasta mengutarakan kontribusi Indonesia Power dalam mengurangi polusi ke pesisir dan laut dengan mengadakan Coastal Clean-up secara rutin di wilayah pantai sekitar tempat perusahaannya berada. Ia juga menyampaikan mengenai TOSS atau Tempat Olah Sampah Setempat, yang merupakan program Corporate Social Responsibility oleh Indonesia Power. Program tersebut melakukan penampungan sampah-sampah dan mengolahnya menjadi gas untuk tenaga pembangkit, mau pun membakarnya bersama batu bara dalam PLTU. Sedangkan Lieke Kembuan menjelaskan berbagai permasalahan sampah di kota Manado, penyebab-penyebabnya, serta hal-hal yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Manado dalam mengatasinya.

Selain menggelar workshop, Ditjen PPKL turut serta pula memeriahkan pameran yang juga merupakan rangkaian dari acara AIS Startup & Business Summit 2019, yang juga diisi oleh berbagai pihak seperti Pemerintah Daerah, LSM, Kementerian dan Lembaga, komunitas-komunitas dan banyak pihak swasta, yang masih terkait dengan pesisir, laut, dan travel & tourism. Berbagai kinerja Ditjen PPKL dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut ditampilkan di pameran tersebut, seperti Coastal Clean Up, pemulihan terumbu karang, penanganan tumpahan minyak, pemantauan sampah laut, dan sebagainya.

Pada dasarnya, dalam workshop tersebut telah menampilkan berbagai inovasi yang telah dilakukan baik oleh pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, maupun swasta, dalam upaya pengendalian pencemaran laut yang berasal dari daratan. Sehingga dengan workshop tersebut, diharapkan dapat mendorong agar semua pihak dapat memunculkan inovasi-inovasi dalam pengendalian pencemaran laut, juga mereplikasi inovasi-inovasi tersebut di daerah ataupun lokasi lain.


]

Original text