News Photo

Jamur Termahal, Majapahit, hingga Masjid Tua: Kunjungan ke Taman Nasional Gunung Rinjani

  • Selasa, 10 Maret 2020
Mataram, 10 Maret 2020. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL) melakukan kunjungan ke Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bersama Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Pengembangan Generasi Muda dan Pramuka, Pramu Risanto, Ketua Yayasan Sahabat Ciliwung sekaligus aktivis lingkungan, Hidayat Al Ramdani, serta beberapa awak media. Dengan dipandu langsung oleh Budi Soesmardi, Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGR, rombongan diajak berkeliling di seputar kaki Gunung Rinjani. Meski saat kunjungan dilakukan akses pendakian ke puncak Gunung Rinjani sedang ditutup karena masih dalam masa pemeliharaan yang biasa dilakukan di awal tahun selama 3 bulan, namun tetap banyak hal yang dapat dijelajahi, dipelajari, dan dinikmati di wilayah TNGR. Terlebih, saat ini TNGR masih dalam masa pemulihan dan pengembangan pasca gempa tektonik 2018 lalu.
 
Pemberhentian pertama adalah di sisi jalan akses wisata Gunung Rinjani. Di sana kami melihat langsung habitat asli Morchella Crassipes, atau lebih dikenal dengan nama jamur morel. Jamur ini digadang-gadang sebagai jamur termahal kedua di dunia setelah jamur truffle. Sayangnya, di Indonesia sendiri, belum banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan sekaligus nilai ekonomi jamur tersebut. Pihak TNGR pun mengaku masih dalam tahap penelitian dan eksperimen untuk dapat mengembangkan dan membudidayakan jamur morel. Besar harapan mereka untuk dapat menjadikan jamur morel sebagai salah satu komoditas yang menghasilkan.
 
Di kantor Balai TNGR, rombongan disuguhkan sup jamur morel dan kopi Sembalun. Sambil bersantap, Budi bercerita mengenai aplikasi e-rinjani sebagai upaya untuk mempermudah para wisatawan untuk mendaftarkan jadwal pendakian mereka ke Gunung Rinjani. Aplikasi tersebut menerapka sistem booking dan penerapan kuota untuk pengunjung yang akan mendaki Gunung Rinjani, yang dibatasi sejumlah 600 orang per harinya. “Sistemnya seperti Traveloka, tapi hanya untuk booking dan tidak bisa refund, karena uang tiketnya masuk di kas keuangan negara, hanya bisa reschedule,” ujar Budi. Sejalan dengan PP No.12 tahun 2014 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), biaya pendaftaran untuk wisatawan asing sebesar Rp 150.000, dan wisatawan domestik Rp 5.000, akan masuk ke rekening yang telah disediakan di aplikasi e-rinjani dan langsung masuk ke kas negara.
 
Budi mengakui dengan adanya aplikasi ini, pihak Balai TNGR sangat terbantu untuk mengontrol Gunung Rinjani baik dari segi pengunjungnya, yang diharuskan melewati proses check in dan check out dengan cara memindai barcode, mengawasi para porter dan guide-nya, hingga mengontrol sampah yang dibawa oleh siapapun yang masuk ke Gunung Rinjani. Dalam kesempatan diskusi ini, Pramu, atau yang akrab disapa Ipam, menyarankan pihak TNGR untuk memberi akses wifi atau internet gratis di pos-pos Gunung Rinjani. “Kasih mereka wifi di atas (jalur pendakian), biar mereka sendiri yang akan mempromosikan tempat ini melalui perjalanan mereka,” tuturnya. Ia juga meminta pihak TNGR untuk merangkul anak-anak muda setempat untuk dapat diberikan berbagai macam pelatihan agar dapat ikut mempromosikan serta mengembangkan wisata di TNGR.
 
Rombongan juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa desa di kaki Gunung Rinjani, tepatnya di Kecamatan Bayan. Di Desa Sambik Elen yang merupakan salah satu Desa Binaan Balai TNGR, Putra Anom, punggawa Desa sekaligus Ketua Karang Taruna, memperkenalkan komoditas asli mereka yaitu madu Trigona, yang dihasilkan oleh hewan lanceng dan bersarang di pohon bambu. Selain itu, mereka juga membudidayakan porang, sejenis umbi-umbian yang dapat tumbuh hingga mencapai 42 kilogram. Bahkan, Anom menyampaikan bahwa pembeli dari Jepang telah siap memborong porang hasil panen mereka sebanyak 100 ton pada tahun 2022 nanti. Diskusi pun berlanjut hingga cerita-cerita legenda daerah mereka dari mulai Majapahit hingga Sunan Kalijaga. Selesai berdiskusi, rombongan diajak untuk melihat sumur tua peninggalan zaman Majapahit, lalu melihat Masjid Bayan Beleq di Desa Bayan, Masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok pada abad ke-17.
 
Diharapkan para pelancong baik asing maupun domestik dapat kembali melirik Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai tujuan utama wisata mereka. Meski tren kunjungan ke TNGR sempat menurun pasca gempa 2018, Balai TNGR telah mengupayakan banyak hal dalam pemulihan dan pengembangannya. Bagi masyarakat Rinjani sendiri, Balai TNGR turut serta dalam melakukan trauma-healingkhususnya bagi anak-anak. Perbaikan-perbaikan pada jalan menuju TNGR juga terus dilakukan demi mempermudah akses bagi para wisatawan. Mereka akan terus menghadirkan gebrakan dan inovasi demi mengembangkan pariwisata demi mengembalikan lagi kejayaan Taman Nasional Gunung Rinjani.


]

Original text