News Photo

Clean Seas Forum With Science "Pemanfaatan Teknologi dan Pemodelan untuk Pemantauan Sampah Laut dan Mikroplastik"

  • Kamis, 10 Juni 2021
Jakarta, 10 Juni 2021. Sampah pastik di laut merupakan salah satu polusi dan limbah yang menjadi tantangan global saat ini. Berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi LIPI tahun 2019 bahwa sampah plastik sudah tersebar luas dan menjadi salah satu masalah dilihat dari segi lingkungan, ekologi, dan ekonomi. Jumlah sampah diperkirakan akan terus meningkat sebesar 10% dari semua plastik yang baru diproduksi dan akan dibuang dan akan berakhir di laut.
 
Indonesia adalah negara dengan potensi yang sangat besar. Dilihat dari sisi jumlah penduduk, Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 sebanyak 270 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,25% per tahun (Badan Pusat Statistik, 2020). Besarnya jumlah penduduk yang diikuti dengan meningkatnya ekonomi masyarakat secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada peningkatan aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Kegiatan yang berlangsung di lahan/daratan maupun di sepanjang kawasan pesisir akan memberikan tekanan ekologis pada kawasan hilir yaitu kawasan pesisir dan laut. Salah satu tekanan ekologis yang terjadi yaitu adanya pencemaran oleh sampah yang bersumber dari daratan.
 
Pencemaran lingkungan laut akibat sampah yang utamanya berbahan plastik pada awalnya hanya dilihat sebagai permasalahan estetika, tapi banyak penelitian beberapa dekade terakhir mengungkap adanya kecendrungan pada bahaya kesehatan baik bagi biota laut maupun manusia. Indonesia sebagai negara dengan wilayah perairan laut yang luas dan berada pada jalur arus dunia (Ocean Conveyor Belt) serta memiliki ARLINDO (Arus Lintas Indonesia) memerlukan solusi terkait teknologi yang inovatif dalam melakukan pemantauan distribusi sampah laut dan mikroplastik.
 
Sebagai salah satu focal point di Indonesia untuk penanganan sampah laut, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) secara daring yang mengangkat tema penanganan sampah plastik di laut. Kegiatan ini dalam kerangka diskusi yang tergabung dalam Clean Seas Forum With Science membahas mengenai inventarisasi dan pemuktahiran solusi pemanfaatan teknologi, serta pemodelan untuk pemantauan sampah laut dan mikroplastik.
 
Narasumber FGD berasal dari pakar lingkungan, akademisi universitas, dan lembaga penelitian yang memiliki pengetahuan dan keahlian mengenai monitoring method terkait polusi sampah dan mikroplastik di perairan laut. Peserta diskusi berasal dari stakeholder terkait dan masyarakat umum yang mengikuti melalui Zoom Cloud Meeting dan kanal Youtube RC3S. Sesi FGD dibagi menjadi dua sesi yaitu: (1) Pemanfaatan Teknologi untuk Pemantauan Sampah Laut dan Mikroplastik; (2) Pemanfaatan Pemodelan Sebaran, Pergerakan dan Sumber Sampah Laut dan Mikroplastik.
 
Pada sesi pertama yaitu pemanfaatan teknologi untuk pemantauan sampah laut dan mikroplastik diisi oleh narasumber dari LAPAN, BATAN, KKP, BMKG, dan BPPT. Narasumber dari LAPAN menjelaskan mengenai peran teknologi pengindraan jauh dengan mengoptimalkan teknologi dengan cara satelit dapat memberikan sensor aktif dan sensor pasif. Menurut Dr. Ety Parwati, cakupan penerimaan data satelit stasiun bumi dari LAPAN sudah sangat optimal dalam pengambilan data. Satelit dapat memantau pergerakan sampah laut. Teknologi yang sedang dikembangkan juga oleh BATAN yaitu pemanfaatan teknologi nuklir untuk memantau dan kontrol polusi plastik melalui pendekatan upstream dan downstream. Pada pendekatan upstream dapat digunakan daur ulang plastik dengan teknologi radiasi. Daur ulang yang digunakan yaitu irradiation (penyinaran) dengan menggunakan gamma dan electron beam radiasi. Plastik di lautan mengalami degradasi fisik dan kimia secara terus menerus yang menghasilkan partikel plastik yang semakin kecil (mikroplastik 5mm; nanoplastik < 0,1 mm).
 
Kementerian Kelautan dan Perikanan terus melakukan riset dan pengembangan teknologi sampah laut. Salah satu penelitian adalah dampak musim barat dan timur terhadap pola pergerakan sampah laut di Indonesia, bagaimana mikroplastik bisa terbawa oleh arus laut dan dampaknya terhadap ekosistem laut. Solusi yang diusulkan untuk mengantisipasi sampah laut akibat arus ini adalah dengan pengembangan teknologi kapal pengumpul sampah dan insenerator di pulau-pulau kecil.
 
Dari segi pemanfaatan teknologi untuk pemantauan sampah laut dan mikroplastik, BPPT melakukan survei secara extra terestris (pengindraan jauh), resolusi satelit inderaja: spasial, temporal, radiomatrik, dan spectral. Data dan informasi pemantauan sampah laut juga bisa didapatkan melalui BMKG. Monitoring sampah laut sangat dipengaruuhi oleh faktor oseanografi khususnya arus laut, sehingga diperlukan suatu teknologi pengamatan dan pemodelan beresolusi tinggi untuk mensimulasikan dan memprakirakan pergerakan arus laut. Sistem pemodelan meteorology-oseanografi yang dikembangkan oleh BMKG untuk mendukung pelayanan informasi dan peringatan dini cuaca laut beroperasional 24 jam. Selain itu, teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah BMKG ocean forecast system yaitu kondisi meteorology oseanografi permukaan laut sebagai penentu yang sangat penting dalam mempengaruhi pergerakan sampah laut. Pola distribusi sampah laut sangat dipengaruhi oleh pola meteorologi dan oseanografi permukaan. Dengan kata lain, prediksi kondisi meteorologi oseanografi sangat diperlukan dalam upaya mitigasi dan adaptasi dari penyebaran sampah laut.
 
Pada sesi kedua diskusi diisi oleh peneliti LIPI, pakar lingkungan dari akademisi yang berasal dari UNDIP, UNPAD, Universitas Maritim Raja Ali Haji, dan Universitas Udayana. Pakar LIPI menjelaskan mengenai pemanfaatan pemodelan sebaran, pergerakan, dan sumber sampah laut dan mikroplastik. Sumber sampah plastik di laut utamanya berasal dari daratan (land based-waste) yang dibawa oleh aliran sungai dan bermuara ke laut. Selain menggunakan teknologi satelit, pemantauan juga dapat dilakukan dengan drone untuk sampah laut di permukaan. Namun cara ini lebih berkendala karena hanya bisa dilakukan di perairan tenang dan tidak dapat menembus kedalaman lebih dari 20 meter. Permasalahan lain adalah sampah lintas batas (lokal dan internasional).
 
Dukungan riset juga dilaksanakan oleh akademisi universitas dengan berbagai kajian dan solusinya. Salah satu hasil kajian dari akademisi dari Universitas Udayana menggunakan data survei model untuk mengkaji pencemaran sampah laut di Bali. Tahun 2019, Bali tergabung dengan komunitas partneship membangun basedland data mengungkap permasalahan mengenai jumlah sampah yang dihasilkan dari daratan sebesar 4,281 Ton/hari. Sebanyak 51% berasal dari rumah tangga, 36% bisnis, institusi dll, dan 13% pariwisata. Dari data tersebut sampah yang telah tertangani “sampai di TPA” 48%. 52% tidak tertangani dengan baik seperti dibakar, terbuang kelingkungan, kebuang ke saluran air. Dari data ini menggunakan metode CSIRO yang paling banyak ditemukan adalah pembungkus makanan diperkirakan 11% masuk keperairan. Ketika biota terancam makan kegiatan pariwisata akan terancam dimana ikan parimanta akan semakin menurun karena ekosistemnya terganggu oleh keberaadaan mikroplastik ini.


]

Original text