News Photo

Menyulap Lahan Bekas Tambang Pasir Menjadi Taman Ekowisata Berbasis Air

  • Kamis, 17 Juni 2021
Padang, 17 Juni 2021. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, didampingi Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Sigit Reliantoro, meresmikan Taman Ekowisata Berbasis Air di bekas lokasi tambang Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Turut hadir Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur, beserta jajaran pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2021.
 
Kawasan Ekowisata Berbasis Air yang terletak di Nagari Balah Hilir, Kabupaten Padang Pariaman ini menjadi objek wisata baru yang dibangun dari bekas tambang pasir galian C. Sebelum dipulihkan, dahulu kawasan ini merupakan tambang rakyat yang tidak beraturan dan meninggalkan lubang-lubang bekas tambang. Sejak tahun 2018, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dan KLHK telah merencanakan pemulihan lahan dengan konsep Ekoeduwisata. Selanjutnya pada tahun 2020, dilaksanakan pemulihan lahan dan menjadi Taman Ekowisata Berbasis Air Padang Pariaman. Bersamaan dengan proses pemulihan, juga dilakukan fasilitasi pembentukan lembaga pengelola pasca pemulihan yakni Kelompok Sadar Wisata atau “Pokdarwis”.
 
Kegiatan pemulihan lahan dilaksanakan dengan tujuan memperbaiki kualitas lingkungan hidup agar fungsinya dalam mendukung tata air menjadi lebih baik, secara ekonomi memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat dan secara sosial budaya menjadi sarana untuk berbagai kegiatan kenagarian dan masyarakat. Konsep “Ekowisata Berbasis Air” diterapkan dilokasi ini dengan menata lubang tambang agar berfungsi sebagai sarana meningkatkan kualitas air sebelum masuk ke sungai. Antar lubang dibangun saluran dan memfungsikan masing-masing untuk mengendapkan material yang terbawa air dan pada lubang yang terakhir dapat diterapkan menjadi lahan basah buatan untuk pengolahan limbah dari kegiatan rekreasi air ini.
 
Lahan bekas tambang yang terlantar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi lahan produktif sebagai lahan pertanian dan perikanan melalui pembangunan lahan basah buatan. Ekowisata Berbasir Air di Padang Pariaman ini menjadi percontohan penerapan Constructed Wetland dalam pemulihan lingkungan dari kegiatan pertanian. Konsep Constructed Wetland dapat dilakukan untuk pengolahan air limbah domestik, pertambangan maupun industri. Di Indonesia, wetland atau lahan basah terdapat sekitar 30 juta hektar dan yang alami cenderung semakin berkurang.
 
Gubernur Sumatera Barat yang akrab dipanggil Buya Mahyeldi mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di lahan bekas tambang rakyat ini harus didukung dengan fasilitas dan sinergitas sehingga program akan berjalan sebaik-baiknya. Ia berharap masyarakat sekitar akan mengelola dan memanfaatkan sehingga dapat berlanjut untuk pengembangannya dan dapat di replikasi di kawasan lain di Sumatera Barat. "Saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta kepada Bupati Padang Pariaman, yang telah berhasil melakukan upaya-upaya penyehatan lingkungan melalui perubahan lokasi bekas tambang ini menjadi objek ekowisata," ujar Gubernur.
 
Sigit Reliantoro dalam sambutannya mengatakan, “Paling penting adalah bagaimana membentuk kelompok masyarakat yang memiliki konsep wirausaha. Sehingga kegiatan yang dilakukan disini dapat melayani dan bermanfaat kembali kepada masyarakat”. Sigit juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh KLHK ini adalah modal awal yang nantinya diharapkan ke depan akan diteruskan, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat. KLHK terus berkomitmen untuk memfasilitasi pengembangan guna mendukung perbaikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
 
Secara bertahap lokasi wisata berkonsep ekoeduwisata ini akan dilengkapi dengan fasilitas seperti kolam renang, kolam mancing, jogging track, lahan kemah, gazebo, taman, café, mushola, listrik tenaga surya, serta fasilitas pengolah air hujan.


]

Original text